Monday, February 13, 2012

                                                                         
PENGEMBANGAN TES KOMPETENSI PEDAGOGIK
GURU SMK BIDANG KEALIAN TEKNIK BANGUNAN
DEVELOPMENT PEDAGOGIC COMPETENCES TEST
FOR SMK TEACHER’S TECHNIQUE BUILDING FIELD 1

Zulkifli Matondang 2

Abstract
This  study aimed at developing a valid and reliable instrument for  testing SMK (vocational scholl) teacher’s pedagogic competence in the field of building construction. The sample of this study is building contruction teachers of SMK in Medan using proportional random sampling technique. The study was conducted in two phases: a rational try-out through experts’ assessment, followed by an empirical try-out. The first phase incorporated 20 experts; i.e. university lecturers of building construction. In the second phase, a competence test was administered to 276 teachers. Construct validity was examined by a factor analysis technique. The results indicated that the indicators fitted the construct; each indicator had a factor loading higher than 0.30. Varimax rotation resulted in a decrease in the factors of competence test, compared to the previously theorized, as pedagogic dimension had 10 factors. The reliability of the instrument was evaluated by alpha and KR-20 formula. The results showed that the instrument was relatively reliable as indicated by the coefficient alpha of its dimensions pedagogic (0.826), Therefore, it can be concluded that the instrument can be used to measure the competence of building construction teachers of SMK.

Kata Kunci : Pengembangan Tes, Kompetensi Pedagogik, SMK.

PENDAHULUAN
Secara makro mutu pendidikan di Indonesia saat ini dianggap relatif rendah. Tahun 1995, 2000 dan  2002 mutu pendidikan di Indonesia di bawah Singapura, Thailand, dan Filipina; bahkan pernah di bawah Vietnam (studi UNDP 1995, 2000 dan 2002). Hal ini sangat ironi mengingat klaim berbagai pihak tentang gencarnya upaya pengembangan pendidikan pada dua dekade terakhir abad ke-20 yang lalu. Bahkan pernah dikatakan “tidak ada bidang kegiatan lain yang mendapat perhatian sebanyak yang diarahkan kepada bidang pendidikan”. Namun, besarnya perhatian itu tidak serta merta membuahkan keberhasilan yang tinggi dan mengesankan (Prayitno, 2005: 4).
Salah satu aspek yang diduga penyebab rendahnya mutu pendidikan Indonesia adalah akibat guru, kerena guru merupakan agen dan pengelola pembelajaran di kelas. Data menunjuk-kan bahwa guru yang mengajar pada sekolah di Indonesia relatif banyak yang kurang kompeten, dan jumlah guru relatif masih kurang dibandingkan dengan jumlah siswa.  Berdasarkan  data  dari Pusat Data  dan

Informasi Pendidikan (PDIP) Balitbang Depdiknas bahwa kualifikasi pendidikan guru di Indonesia yang kurang layak yaitu  masing-masing  pada tingkat:  SD sebesar 49,3%, SMP sebesar 35,9%, SMA sebesar 32,9% dan SMK sebesar 43,3%. Data ini memperlihatkan bahwa kualifikasi guru berdasarkan pendidikan relatif masih rendah, karena masih banyak proporsi yang kurang layak.
Bila diperhatikan lebih mendetail tentang data tentang kualifikasi tingkat pendidikan guru SMK di Indonesia menunjukkan bahwa yang memiliki pendidikan setara D-I sebesar 3,54%, setara D-II sebesar 1,79%, setara D-III sebesar 30,18%, setara S-I sebesar 64,16% dan diatas S-I sebesar 0,33% (Depdiknas, 2005 : 31). Lebih lanjut data menunjukkan bahwa jumlah guru SMK masih kurang sebanyak 82.859 orang  masing masing sebesar 9.008 orang pada SMK Negeri dan 73.851 orang pada SMK Swasta. Berdasarkan data guru tersebut, khususnya pada SMK maka perlu suatu standar untuk memperbaiki mutu pendidikan. Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan terhadap guru dan calon guru di Indonesia, selain kualifikasi pendidikan juga kompe-tensinya sebagai seorang guru.
Dalam pengembangan guru, dikenal istilah guru sebagai tenaga fingsional dan guru juga sebagai tenaga profesional. Kedua kebijakan tersebut pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru, yang keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, implementasi kebijakan harus senantiasa mengandung keterkaitan antara kompetensi dan kesejahteraan.
Salah satu jenjang pendidikan adalah Pendidikan Menengah. Pendidikan menengah merupakan lanjutan dari pendidikan dasar dan salah satu bentuknya yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Untuk meningkatkan mutu pendidikan pada jenjang SMK, maka perlu usaha yang sadar untuk meningkatkan mutu penyelenggara pendidikan SMK yang salah satunya adalah mutu tenaga pengajar (guru). Dalam meningkatkan kompetensi harus dipahami apa dan bagaimana karakteristik kerja guru. Kebijakan peningkatan kompetensi guru dijabarkan dalam program kegiatan yang serasi dengan karakteristik kerja guru. Tiga karakteristik kerja guru yang perlu mendapat perhatian, yaitu: Pertama, kerja guru habis di ruang kelas sehingga interaksi antar guru rendah. Kedua, kerja guru dari waktu ke waktu dihadapkan keharusan bekerja secara individual dan mengambil keputusan yang bersifat non-kolaboratif. Ketiga, kerja guru tidak pernah mendapat umpan balik dari siswa, kolega guru atau kepala sekolah. Guru tidak pernah mengetahui kelemahan dan keunggulannya, sehingga guru tidak pernah memahami apa yang harus dilakukan untuk memperbaki kinerjanya.
Sejalan dengan karakteristik tersebut, maka pengembangan jenjang promosi karier guru harus senantiasa bertumpu pada hakekat kerja guru. Tugas utama guru adalah mengajar dan melangsungkan proses pembelajaran. Pembinaan kualitas profesional guru yang terkandung dalam kebijakan jenjang jabatan fungsional, mesti bertumpu pada kemampuan melaksanakan pembelajaran tersebut.
Mengelola pembelajaran memerlukan dua bekal pokok, yaitu bekal tentang materi ajar dan pengetahuan tentang subjek yang diajar (siswa). Namun, dengan pengetahuan tersebut belum cukup, masih diperlukan kemampuan yang mencakup: a) kemampuan untuk menilai dan mengambil keputusan dalam proses pembelajaran, b) kemampuan untuk melakukan improvisasi sesuai dengan kondisi yang ada, c) kemampuan untuk bekerja sama. Kemudian dalam pelaksanaan proses pembelajaran diperlukan adanya komitmen guru terhadap siswa dan kebutuhan belajar siswa.
Kebijakan dan program peningkatan kualitas profesional guru harus dipahami stake holder pendidikan, khususnya oleh guru itu sendiri. Sejalan dengan kebijaan peningkatan kompetensi dan jabatan guru, harus menfokuskan pada peningkatan kualitas proses pem-belajaran. Menurut Sukamto, penilaian dan sertifikasi kompetensi guru untuk pengembangan karir dalam jabatan meliputi: a) kompetensi kemampuan bidang studi (untuk guru SMK merupakan guru bidang studi majemuk “multiple subject”), b) kompetensi pemahaman karakteristik siswa, c) kompetensi pembelajaran yang mendidik, dan d) kompetensi pengembangan profesi dan kepribadian pendidik (Sukamto, 2004). 
Sertifikasi kompetensi profesi menjadi penting karena jurisdiksi. Pelaksanaan suatu jabatan dapat dilindungi dan dikontrol dari orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi profesi di bidangnya, sehingga publik dapat dilindungi dari kemungkinan malpraktek di bidang profesi tersebut. Jurisdiksi profesi secara langsung berhubungan dengan sistem ilmu pengetahuan yang mendasarinya yang diakui dan didukung dengan pendidikan/ pelatihan sebagai dasar terbentuknya profesi. Dengan sertifikasi profesi maka keandalan kinerja dari jabatan yang dipegang oleh seseorang akan dijamin, paling tidak pada tingkat kualifikasi kompetensi minimal. Dalam tatanan masyarakat global yang semakin terbuka dan kompetitif, tuntutan akan kebutuhan sertifikasi profesi ini semakin besar.
Sertifikasi guru sebagai upaya peningkatan mutu guru dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru. Melalui sertifikasi diharapkan dapat meningkat-kan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di Indonesia secara berkelanjutan. Bentuk peningkatan kesejahteraan guru berupa tunjangan profesi yang memiliki sertifikat pendidik. Tunjangan tersebut berlaku, baik bagi guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus non-pegawai negeri sipil (swasta).
Dalam rangka pelaksanaan sertifikasi guru tersebut, maka tulisan ini bertujuan untuk mengembangakan suatu instrumen yang dapat digunakan sebagai alat ukur kompetensi pedagogik guru. Kompetensi berasal dari bahasa Inggiris yaitu competence. Maknanya sama dengan being competent, sedangkan competent sama artinya dengan having ability, power, authoority, skill, knowledge, attitude dan sebagainya. Dengan demikian kompetensi adalah kemampuan, kecakapan, keterampilan dan pengetahuan seseorang  dibidang tertentu. Jadi kata kompetensi diartikan sebagai kecakapan yang memadai untuk melakukan suatu tugas atau suatu keterampilan dan kecakapan yang disyaratkan.
Elliot (2005:5) mengemukakan bahwa kompetensi dapat didefisikan sebagai suatu kondisi atau kualitas dari keefektifan, kemampuan, atau kesuksesan. Depdiknas (2002:1) merumuskan bahwa bahwa kompetensi adalah suatu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.   Selain itu ada juga yang memberi makna kompetensi hampir sama dengan keterampilan hidup atau ”life skills”.  Kompetensi atau keterampilan hidup dinyatakan dalam bentuk kinerja atau performansi yang dapat diukur.
Pengembangan kompetensi meru-pakan suatu proses konsolidasi dalam memahirkan seperangkat keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai domain kehidupan (Sternberg, 2005:15). Kompetensi guru dinilai penting sebagai alat seleksi dalam penerimaan calon guru, yang dapat dijadikan pedoman dalam rangka pembinaan dan pengembangan tenaga guru.
Interstate New Teacher Assessment and Support Consorcium (INTASC) Standards menjelaskan seorang guru yaitu harus memiliki pemahaman tentang: bidang ilmu, pengembangan potensi anak, berbagai strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, kemampuan berkomunikasi, perencanaan pembelajaran, penilaian hasil belajar, komitmen, dan menjalin hubungan dengan berbagai pihak.
Pedagogik mempunyai arti ilmu mendidik. Kompetensi pedagogik merupakan suatu performansi (kemampuan) seseorang dalam bidang ilmu pendidikan. Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki kompetensi pedagogik. Seorang guru SMK harus memiliki pengetahuan dan pemahaman serta kemampuan dan keterampilan pada bidang profesi kependidikan. Menurut Depdiknas (2002:27) pengetahuan dan pemahaman yang harus dimiliki seorang guru sebagai profesi kependidikan meliputi hal:  a) peserta didik, b) teori belajar dan pembelajaran, c) kurikulum dan perencanaan pengajaran, d) budaya dan masyarakat sekitar sekolah,  e) filsafat dan teori pendidikan, f) evaluasi, g) teknik dasar dalam mengembangkan proses belajar, h) teknologi dan pemanfaatannya dalam pendidikan, i) penelitian, j) moral, etika dan kaidah profesi.
Menurut Valente, kompetensi pedagogik merupakan salah satu kompetensi yang sangat penting. Kemudian dikemukakan bahwa: This kind of competency is the main problem related to the didacted and methodology used in classroom teaching. Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman tentang: (a) sifat dan ciri anak didik serta perkembangannya, (b) konsep-konsep pendidikan yang berguna membantu anak didik, (c) motodologi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak didik, dan (d) sistem evaluasi yang baik dan tepat. 
            Dalam tulisan ini akan diuraikan tentang proses pengembangan tes kompetensi pedagogik guru SMK bidang keahlian teknik bangunan.

METODOLOGI PENELITIAN
1. Pembakuan Instrumen
Tes kompetensi pedagogik dikembangkan atas 8 sub dimensi (kompetensi inti guru). Setiap sub dimensi terdiri dari atas beberapa indikator.  Butir instrumen disusun berdasarkan setiap indikator, sehingga butir yang ditulis dapat mengukur indikator yang telah ditetapkan.
Metode pengembangan instrumen yang digunakan dalam tulisan ini dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: Pertama, pengembangan kisi dan butir-butir instrumen; Kedua, ujicoba validitas teoritis melalui panel pakar (expert judgement); Ketiga, pengambilan data untuk menguji validitas konstruk dan reliabilitas secara empiris.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pembakuan instrumen penilaian kompetensi pedagogik guru diuraikan sebagai berikut:
1.      Pengembangan definisi konseptual, operasional dan kisi-kisi kompetensi pedagogik guru bidang keahlian teknik  bangunan.
2.      Penyusunan butir pertanyaan untuk kompetensi pedagogik berdasarkan indikator.
3.      Konfirmasi tekerbacaan setiap butir instrumen kepada ahli.
4.      Ujicoba kepada kelompok pakar (ahli) sebagai expert judgement untuk penyeleksian butir.
5.      Analisis data uji coba panelis, serta perbaikan dari berbagai.
6.      Ujicoba bagi guru untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda butir, validitas dan reliabilitas instrumen.
7.      Merevisi instrumen berdasarkan data ujicoba dan keterbacaan setiap butir instrumen.
8.      Melakukan ujicoba untuk menguji jumlah faktor/indikator dari kompetensi pedagogik guru.
9.      Menghitung validitas dan reliabilitas instrumen yang dikembangkan.
10.  Penyempurnaan perangkat tes kompetensi.
11.   Pengadministrasian tes kompetensi pedagogik guru bidang keahlian teknik bangunan.
12.  Mengukur kompetensi pedagogik guru bidang keahlian teknik bangunan.

2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada SMK bidang keahlian teknik bangunan dengan melibatkan para guru. Penelitian ini mulai tahap: pengembangan tes kompetensi pedagogik guru,  pengujian rasional (expert judgement) diberikan pada 20 orang pakar, pengujian empiris pertama dilakukan pada 30 orang guru dan pengujian empiris kedua dilakukan pada 276 orang guru SMK bidang keahlian teknik bangunan. Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai bulan Juli 2006 s.d Juli 2007. yang berlokasi di Jakarta dan Medan.

3. Ujicoba Instrumen
Salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh instrumen (alat ukur) adalah validitas. Validitas alat ukur berkaitan dengan sejauhmana alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Menurut Gable (1986:72), validitas adalah tingkat kecocokan alat ukur (butir) untuk mengukur apa yang seharusnya diukur, Kesahihan tidak sekedar mengukur apa yang seharusnya diukur, namun juga mengandung pengertian sejauh-mana informasi yang diperoleh dari pengukuran dapat diinterpretasikan sebagai tingkah laku atau karakteristik yang akan diukur. Uji validitas butir tes kompetensi pedagogik dilakukan dengan rumus point biserial.
            Reliabilitas (reliabity) adalah kekonsistenan pengukuran yang dihasilkan atau konsistensi sekor yang dihasilkan. Bila suatu instrumen dipakai berulang-ulang untuk mengukur gejala yang sama dan hasil yang diperoleh relatif stabil atau konsisten, maka instrumen tersebut terpercaya. Wiersma menyatakan reliabilitas adalah konsistensi suatu instrumen mengukur sesuatu yang hendak diukur. Tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas. Makin tinggi koefisien reliabilitas suatu instrumen, maka kemungkinan kesalahan yang terjadi akan semakin kecil. Uji reliabilitas tes kompetensi pedagogik dilakukan dengan rumus KR-20. Uji empiris tahap kedua dilakukan dengan analisis faktor, untuk menguji konstruk/konten dari kompetensi pedagogik guru.
              


HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Tahap Pengembangan
Tahap ini dilakukan diskusi panel yang melibatkan para guru bidang keahlian teknik bangunan dan mahasiswa S-3 program studi PEP UNJ. Tahap ini dibahas tentang perangkat tes kompetensi pedagogik guru, dan petunjuk pengisiannya. Hasil dari tahap diskusi panel ini adalah definisi konseptual, definisi operasional dan kisi-kisi perangkat tes kompetensi pedagogik guru SMK bidang keahlian teknik bangunan.
2.  Ujicoba Secara Rasional oleh Pakar
Penilaian pakar dilakukan untuk mengetahui validitas isi tes. Selain itu dapat pula diketahui reliabilitas dan kelayakan tes yang dikembangkan. Untuk melihat kelayakan perangkat tes, para pakar diminta mencermati kompetensi inti dan indikator yang telah tersusun dalam kisi-kisi.
Berdasarkan kompetensi pedago-gik yang diujikan, para pakar mencermati kesesuaian indikator dengan kompetensi tersebut. Penilaian pakar tentang kesesuaian digunakan skala thurstone (skor 1 – 9). Hasil uji reliabilitas interrater tes kompetensi pedagogik guru didapat minimal 0,844.
Selain itu, para pakar memberikan beberapa masukan guna penyempurnaan perangkat tes kompetensi antara lain penjelasan agar lebih operasional tentang kompetensi pedagogik guru.

3. Ujicoba Empiris Tahap Pertama
Ujicoba dilakukan pada gguru SMKN 1 PST Kabupaten Deliserdang Sumatera Utara sebanyak 30 orang. Hasil ujicoba empiris tahap pertama dengan rumus point biserial didapat sebanyak 13 butir dari 55 butir tes kompetensi pedagogik yang kurang valid. Adapun nomor butir yang kurang valid yaitu: 3, 4, 9, 18, 19, 22, 29, 32, 33, 36, 39, 44, dan 47. Perhitungan reliabilitas tes kompetensi pedagogik dengan rumus KR-20, diperoleh koefisien reliabilitas 0,840. Koefisien reliabilitas ini cukup memadai karena berada diatas 0,70. Secara rinci hasil perhitungan tingkat kesukaran butir diperoleh  sebanyak 43 butir masuk kategori sedang dan 12 butir kategori sukar. Daya beda butir masuk kategori kurang baik sebanyak 23 butir, 11 butir kategori baik dan 21 butir kategori sangat baik serta tidak ada butir masuk kategori jelek.

4.  Ujicoba Empiris Tahap Kedua
Hasil analisis data kompetensi pedagogik dengan analisis faktor, diperoleh nilai KMO sebesar 0,738, seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 1. KMO dan Barlett’s Test 
KMO
Bartlett’s Test Sphericity
Df
Signifikansi
0,738
9052,736
861
0,000

Banyak faktor ditetapkan sama dengan jumlah faktor yang mempunyai variansi (eigen value) lebih besar dari 1,0. Keseluruhan faktor yang memiliki variansi lebih dari 1,0 harus mengukur minimal 65% dari variansi total. Muatan faktor yang tetap dipertahankan adalah diatas 0,3. Hal ini sesuai dengan aturan bahwa muatan faktor yang lebih dari 0,3 cenderung signifikan, dan kurang dari 0,3 tidak dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap suatu faktor.
Hasil perhitungan dengan analisis faktor, tidak terdapat butir yang nilai AIC MSA nya kecil dari 0,50, sehingga tidak ada butir yang gugur. Hasil analisis validitas konstruk melalui analisis faktor diperoleh hasil bahwa ada 10 faktor yang memiliki eigenvalue lebih dari 1,00. Total variance explained dari 10 faktor yaitu sebesar 74,541 %, dan dalam bentuk grafik ditunjukkan pada scree (scree plot) berikut.
Gambar 1.   Scree Plot Kompetensi Pedagogik

Hasil analisis faktor menunjukkan bahwa tes kompetensi pedagogik guru memiliki sebaran butir tes sebagai berikut:
    Tabel 2.  Sebaran Butir Tes Kompetensi Pedagogik Setelah Rotasi
Faktor
Sebaran Butir
Nama Faktor
 1
2, 3, 5, 7, 10, 11, 13, 14, 16, 18
Memahami karakteristik peserta didik
 2
22, 24, 25, 26, 27, 28, 36, 37, 41
Mengembangkan potensi peserta didik
 3
15, 17, 21, 38, 40
Memahami prinsip pembelajaran
 4
29, 30, 31
Merancang pembelajaran
 5
19, 23, 34
Melaksanakan pembelajaran
 6
9, 12, 39
Mengambil Keputusan dlm pembelajaran
 7
1, 4
Memahami prinsip penilaian
 8
8, 20, 35
Memahami pengembangan instrumen
 9
6, 42
Memahami analisis hasil belajar
 10
32, 33
Menggunakan informasi

Pendekatan konfirmatori yang dilakukan melalui komputasi dengan metode maximum likelihood, untuk menguji apakah estimasi faktor yang terbentuk berdistribusi normal. Untuk menguji kesesuaian (goodness of fit test) dihitung dengan rumus chi-kuadrat. Hasil perhitungan diperoleh indeks sebesar  277,739 dengan derajat bebas 191 dan probabilitas sebesar 0,000. Hasil perhitungan seperti pada Tabel 3.
Tabel 3. Goodness of fit Test  Kompetensi Pedagogik
Chi-Square
Db
Signifikansi
277,739
191
0,000

5. Kompetensi Pedagogik Guru
Dari hasil analisis data diperoleh bahwa skor kompetensi pedagogik dari guru bidang keahlian teknik bangunan mempunyai nilai rata-rata (mean) sebesar 49,65  dengan simpangan baku 16,73.  Nilai median 46,43 dan nilai modus 33,33.  Sebaran data dituangkan ke dalam daftar berikut.

      Tabel 4.  Distribusi  Frekuensi Kompetensi Pedagogik
No
Rentang Skor
Frek. Absolut
Frek.
Relatif (%)
Frek.
Kumulatif (%)
1
£  50
160
57.97
57.97
2
51 - 60
42
15.22
73.19
3
61 - 70
44
15.94
89.13
4
71 - 80
9
3.26
92.39
5
> 80
21
7.61
100.00

Jumlah
276
100.00



6. Pembahasan
Secara umum perangkat tes kompetensi pedagogik guru dapat digunakan untuk menilai kompetensi guru bidang keahlian teknik bangunan. Dalam proses pengembangan tes, rancangan awal perangkat tes mengalami cukup banyak perbaikan, mulai dari hasil ujicoba rasional dan ujicoba empiris. Pengembangan tes mencakup isi, fokus dan format penyusunan kisi-kisi instrumen dan butir-butir indikator. Selain itu perbaikan dilakukan untuk kesesuaian isi pada setiap indikator dan dimensi kompetensi.  Kalimat petunjuk umum dinilai dan direvisi agar peserta tes dapat dengan mudah memahaminya perangkat tes.
Pada ujicoba tahap pertama, terdapat berbagai kelemahan perangkat tes, seperti istilah teknis dan penulisan kalimat yang dipandang kurang jelas. Ujicoba empiris kedua dianalisis dengan analisis faktor. Analisis ini dilakukan sebagai penegasan (confirmatory) bahwa indikator yang dikembangkan dalam instrumen valid dalam mengukur kompetensi pedagogik guru. Hasil analisis memenuhi syarat validitas jika jumlah faktor diekstraksi sama dengan jumlah faktor yang mempunyai variansi (eigen value) lebih besar dari 1.0 dan keseluruhan faktor yang memiliki variansi lebih dari 1.0 harus mengukur minimal 60% dari variansi total. Proses analisis dilakukan melalui seleksi muatan faktor (factor loading) yaitu ekstraksi komponen utama (extracting principal component) dengan rotasi ortogonal untuk memaksimalkan variansi (variance maximizinglvarimax) antar variabel.
Hasil analisis tes kompetensi pedagogik terbentuk 10 faktor dengan total varians sebesar 74,541 %. Hal tersebut telah melebihi standar minimal total varians komulatif sebesar 60 %. Hasil ujicoba koefisien reliabilitas tes kompetensi pedagogik sebesar 0,826. Hal tersebut menunjukkan bahwa tes yang dikembangkan telah memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas.
Hasil analisis tentang skor kompetensi pedagogik yaitu banyak guru memiliki skor kecil dari 50 dengan rentang 0 sampai 100. Hal ini bermakna bahwa pada umumnya kompetensi guru perlu dikembangkan, terutama pada kompetensi pedagogik. Ini berindikasi bahwa, para guru kurang mengikuti perkembangan ilmu terutama pada bidang ilmu pendidikan (pedagogik)
KESIMPULAN
Instrumen kompetensi guru dimensi pedagogik yang dikembangkan ini memiliki karaktersistik sebagai berikut. Ujii validitas konstruk teoritis yang menggunakan rational judgement diperoleh nilai median berkisar antara 7,00 sampai 9,00, dengan koefisien interrater sebesar 0,803. Uji empiris tahap pertama diperoleh 13 butir yang tidak valid dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,840. Uji empiris tahap kedua diperoleh nilai KMO sebesar 0,738 dan nilai Bartlett's test of Sphericity sebesar 9052,736 dengan db=861 dan signifikansi 0,000.  Total variance explained dari 10 faktor diperoleh sebesar 0,745. Hasil rotasi dengan 10 kali iterasi memperlihatkan semua muatan faktor memiliki nilai diatas 0,30. Nilai muatan faktor tertinggi (factor loading) 0,808 yaitu butir 5, dan nilai muatan faktor terkecil butir 36 sebesar 0,307. Pengujian kesesuaian goodness of fit test menghasilkan indeks sebesar 277.739 dengan db=191 dan signifikasi 0,000. Reliabilitas internal yang dihitung dengan rumus KR-20 diperoleh koefisien sebesar 0,826.


Daftar Pustaka
Aiken, Lewis R. Psychological Testing and Assesment. Boston: Allyn and Bacon. 1994.
---------,  Rating Scales and Checlists. New York: John Wiley. 1996.
American Federation of Teaching, Standards for Teacher Competence in Educational Assessment of Student, Washington, DC: National Council on Measurement in Education, 1990.  
Amstrong, Robert J. At all. The Develoment and Evaluation of Behavioral Objectives. Ohio: Charles A. Jones Publ. 1970.
Ary, Donald, Lucy Cheser Jacobs and Asghar Razavieh. Pengantar Penelitian Dalam Penelitian, terj. Arief Furchan. Surabaya: Usaha Nasional. 1982.
Azwar, Saifuddin. Sikap Manusia (Teori dan Pengukurannya). Yogyakarta: Liberty. 1988.
---------, Penyusunan Skala Psikologi., Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003.
---------, Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2003.
Borich, Gary D. The Appraisal of Teaching Conceps and Process Massachuset: Addison Wesley Publishing Company, Inc,1997.
Cronbach, Lee J. Essentials of Psychological Testing. NY: Happer and Row Publ. 1984.
Depdiknas. Pengembangan Sistem Pendidikan Tenaga Kependi-dikan Abad ke 21 (SPTK-21). Jakarta: Depdiknas. 2002.
----------, Deskripsi Kompetensi Guru Dalam Jabatan Fungsional. Jakarta: Depdiknas. 2007.
Djaali dan Pudji Muljono. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PPs UNJ. 2004.
Elliot, Andrew J. and Carlos S. Dweck. “Competences and Motivation”, Handbook of Competence and Motivation, ed. Andrew J. Elliot, and Carlos S. Dweck. New York: The Guilford Press, 2005.
Interstate New Teacher Assessment and Support Consorcium (INTASC) Standards, http://education.bye. edu/INTASC_Standards.html
Kanfel,  Ruth and Phillip L. Ackerman, ”Work Competence: A Person-Oriented Perspective”, Handbook of Competence and Motivation, ed. Andrew J. Elliot and Carlos S. Dweck. New York: The Guilford Press, 2005.
Prayitno. “Pendekatan Basic Need Dalam Pendidikan: Aplikasi Ilmu Pendidikan” makalah disampaikan pada Pertemuan FIP/JIP seluruh Indonesia di Bukittinggi 12-14 September 2005.
Sampson, Roges. Standards for Alaska’s Teachers. http://www. eed.stake. ak.us
Sternberg, Robert J. “Intelligence, Competence and Expertice”, Handbook of Competence and Motivation, ed. Andrew J. Elliot, and Carlos S. Dweck. New York: The Guilford Press, 2005.
Sukamto, Pengembangan Sistem Penilaian Untuk Sertifikasi Guru, makalah disampaikan pada seminar nasional “Rekayasa Sistem Penilaian Dalam Rangka Penilaian Kualitas Pendidikan”, Yogyakarta: 26-27 Maret 2004.
Valente, Etelvina M. “Pedagogic Competency of the Brazilian University Professor”. http://www. aare.edu. au/01pap/sil0189.htm
Volante, Louis. “Teaching To the Test: What Every Educator and Policy-maker Should Know”, Canadian Journal of Educational Administration and Policy, September 25, 2004.
Undang-Undang RI No. 14 Th. 2005 Tentang Guru dan Dosen
Permen Dikdas RI Nomor 18 Tahun 2007 Tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan


[1] Tulisan ini merupakan bagian dari Disertasi Penulis
[2] Dosen FT Universitas Negeri Medan